Jakarta Selatan — Dalam suasana penuh keberkahan bulan suci Ramadhan, Masyarakat Anti Pungli Indonesia (MAPI) kembali menggelar kegiatan tahunan berupa buka puasa bersama dan santunan anak yatim yang dilaksanakan di Masjid Jami Tangkuban Perahu, yang beralamat di Jalan Tangkuban Perahu No.1–8 RT 5/RW 5, Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Pada Kamis, 5 Maret 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen MAPI untuk tidak hanya bergerak dalam advokasi pemberantasan pungutan liar, tetapi juga hadir secara nyata dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat. Momentum Ramadhan dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai kepedulian sosial, solidaritas, dan kebersamaan.
Acara ini menghadirkan suasana hangat penuh kekeluargaan, mempertemukan para pengurus organisasi, tokoh masyarakat, unsur pemerintah, serta anak-anak yatim yang menerima santunan. Kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus refleksi moral tentang pentingnya integritas, kejujuran, dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejarah Singkat Masjid Jami Tangkuban Perahu
Masjid Jami Tangkuban Perahu merupakan salah satu masjid yang memiliki nilai sejarah penting di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Masjid ini didirikan pada tahun 1908 oleh Sayid Ahmad bin Muhammad bin Shahab, seorang tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan kehidupan keagamaan di wilayah tersebut. Pada awal berdirinya, masjid ini berada di kawasan Menteng. Namun seiring perkembangan wilayah dan kebutuhan masyarakat, masjid tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang berada di wilayah Guntur, Kecamatan Setiabudi.
Masjid ini dikenal dengan arsitektur modern yang didominasi warna hijau dan kuning, yang memberikan nuansa sejuk sekaligus mencerminkan karakter spiritual yang kuat. Selama lebih dari satu abad, Masjid Jami Tangkuban Perahu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan keagamaan, serta ruang silaturahmi masyarakat. Keberadaan masjid ini menjadi simbol bahwa nilai-nilai keagamaan dan sosial selalu berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Jakarta.
Kehadiran Tokoh dan Pengurus
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari berbagai unsur organisasi dan pemerintahan. Dari jajaran MAPI DKI Jakarta, hadir antara lain: Ocky Indra, H. Sulaeman Nahdi, Bambang, H. Uti, Sarah dan Noviandhy Sementara dari MAPI Pusat, hadir Tan Wijaya selaku Ketua Umum MAPI yang turut memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan sosial tersebut. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah, di antaranya: Isep (Kasi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Guntur), Kurnia Rita (Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Setiabudi), dan Erwin Sopyana Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Barat.
Acara ini juga mendapatkan perhatian khusus dengan hadirnya Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta ke-13, yang turut memberikan dukungan moral terhadap kegiatan sosial yang dilakukan oleh MAPI. Kehadiran berbagai tokoh tersebut menunjukkan bahwa kegiatan sosial seperti ini mampu menjadi ruang kebersamaan lintas sektor yang memperkuat hubungan antara masyarakat, organisasi sosial, dan pemerintah.
Sambutan dan Pesan Kebersamaan
Dalam sambutannya, Bapak Isep selaku Kasi Kesra Kelurahan Guntur menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan buka puasa bersama dan santunan anak yatim merupakan tradisi sosial yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kelurahan Guntur. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat penting karena mampu memperkuat hubungan sosial antara warga, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan. “Mewakili Bapak Lurah Guntur, kami menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Buka puasa bersama dan santunan anak yatim merupakan kegiatan yang rutin dilakukan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Kelurahan Guntur,” ujarnya.
Pesan Moral dari Dewan Pembina MAPI
Salah satu bagian penting dalam acara tersebut adalah sambutan yang disampaikan oleh Endang Agustian, S.H., M.H., selaku Dewan Pembina MAPI. Dalam sambutannya, Agustian menekankan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual semata, tetapi juga momentum untuk memperbaiki kualitas moral dan integritas manusia. Menurutnya, kepedulian terhadap anak yatim dan masyarakat yang membutuhkan merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh agama.
Agustian menyampaikan bahwa organisasi seperti MAPI tidak boleh hanya hadir sebagai institusi advokasi, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi sosial bagi masyarakat. “Kita harus memahami bahwa perjuangan melawan pungutan liar bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral. Ketika moral masyarakat kuat, ketika kepedulian sosial tumbuh, maka praktik-praktik yang merugikan masyarakat akan semakin sulit untuk terjadi,” ungkapnya.
Endang Agustian juga menekankan bahwa nilai kejujuran harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Menurutnya, anak-anak yatim yang hadir dalam kegiatan tersebut bukan hanya penerima santunan, tetapi juga merupakan generasi penerus bangsa yang harus diberikan perhatian, pendidikan, dan kasih sayang. Serta mengingatkan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang. “Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Ketika kita menyantuni mereka, kita bukan hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan harapan dan semangat bahwa mereka tidak sendiri,” katanya.
Lebih jauh, Agustian juga menekankan pentingnya menjaga nilai integritas dalam kehidupan bermasyarakat. Menyampaikan bahwa gerakan anti pungli tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat yang memiliki kesadaran moral yang tinggi. “Perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil. Dari kejujuran dalam diri kita, dari kepedulian terhadap sesama, dari keberanian untuk mengatakan yang benar,” tambahnya. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang sangat tepat untuk melakukan refleksi diri sekaligus memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kejujuran dan keadilan.
Wujud Kepedulian Sosial
Kegiatan ini diisi dengan berbagai rangkaian acara yang penuh makna, mulai dari silaturahmi antar pengurus dan tamu undangan, pemberian santunan kepada anak-anak yatim, tausiyah Ramadan, hingga buka puasa bersama. Suasana kehangatan dan kebersamaan sangat terasa ketika para pengurus MAPI, tokoh masyarakat, dan anak-anak yatim berkumpul dalam satu ruang yang penuh dengan nuansa kekeluargaan.
Bagi MAPI, kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk terus hadir di tengah masyarakat. Melalui kegiatan tahunan ini, Masyarakat Anti Pungli Indonesia (MAPI) berharap dapat terus menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial, memperkuat solidaritas antarwarga, serta mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih berintegritas.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan buka puasa yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai tantangan kehidupan, nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, dan kepedulian sosial harus terus dijaga sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. (VS)

