PARADOKS KOMUNIKASI DI ERA DIGITAL
Di era digital hari ini, komunikasi justru menghadapi paradoks: semakin banyak yang berbicara, semakin sedikit yang benar-benar dipahami. Kita hidup dalam kelimpahan pesan, tetapi kekurangan makna. Dulu, komunikasi terasa sederhana seperti toa masjid: satu orang berbicara, banyak orang mendengar. Pesan mengalir satu arah, jelas, dan relatif utuh sampai ke penerima. Kini, pola itu berubah drastis. Komunikasi lebih menyerupai status WhatsApp: yang peduli belum tentu memahami, yang memahami justru sering tidak membaca.
BANJIR INFORMASI DAN KRISIS PERHATIAN PUBLIK
Perubahan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal bagaimana manusia memproses informasi. Di Indonesia, penetrasi internet telah mencapai lebih dari 78 persen populasi menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024. Sementara laporan Digital 2024 Indonesia dari We Are Social menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di internet, dengan porsi besar pada media sosial dan aplikasi percakapan.
Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan paparan pesan. Setiap hari, individu dibanjiri notifikasi, konten, dan percakapan yang datang silih berganti. Perhatian menjadi komoditas langka. Pesan tidak lagi bersaing pada kedalaman makna, melainkan pada kemampuan merebut perhatian dalam hitungan detik. Akibatnya, komunikasi sering berhenti pada permukaan. Ia menjadi cepat, ringkas, dan masif, tetapi kehilangan kedalaman.
Informasi tersebar luas, namun pemahaman tidak selalu ikut tumbuh. Fenomena ini juga tercermin dalam meningkatnya misinformasi dan disinformasi di ruang digital, yang berulang kali diingatkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai tantangan serius literasi digital masyarakat.
DARI PEMAHAMAN KE REAKSI: PERUBAHAN POLA KOMUNIKASI SOSIAL
Kita bisa melihat gejala ini secara nyata dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Dalam ruang politik, misalnya, perdebatan publik sering kali lebih didominasi oleh potongan pernyataan, slogan, atau narasi pendek yang viral, ketimbang substansi kebijakan. Diskursus publik menjadi cepat panas, tetapi dangkal. Orang bereaksi terhadap cuplikan, bukan memahami konteks utuh.
Di ranah birokrasi, persoalan komunikasi juga kerap muncul dalam bentuk yang berbeda. Kebijakan sudah disusun, regulasi telah diterbitkan, tetapi publik tetap bingung karena pesan tidak disampaikan dengan mempertimbangkan cara masyarakat memahami. Tidak jarang, bahasa yang digunakan terlalu teknokratis, jauh dari keseharian warga.
Akibatnya, yang sampai bukan kejelasan, melainkan kebingungan. Di media sosial, fenomenanya bahkan lebih kompleks. Algoritma mendorong konten yang cepat menarik perhatian emosional, provokatif, dan sering kali menyederhanakan persoalan. Percakapan berubah menjadi polarisasi. Orang tidak lagi berdialog, tetapi saling menegaskan posisi.
KESENJANGAN MAKNA DALAM TEORI KOMUNIKASI
Dalam kajian klasik komunikasi, Wilbur Schramm menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi sangat ditentukan oleh kesamaan pengalaman (field of experience) antara pengirim dan penerima pesan. Tanpa kesamaan itu, pesan mudah terdistorsi: diterima, tetapi tidak dimaknai sebagaimana mestinya. Di era digital, kesenjangan pengalaman ini justru semakin lebar. Latar belakang sosial, budaya, hingga preferensi algoritmik membentuk cara orang memahami pesan secara berbeda-beda.
KOMUNIKASI YANG KEHILANGAN ESENSI MENDENGAR
Di sinilah letak persoalan mendasar. Banyak orang masih memaknai komunikasi sebagai proses menyampaikan: “aku berbicara, kamu mengetahui”. Padahal esensinya jauh lebih dalam: “aku memahami, maka aku menyampaikan”. Komunikasi bukan sekadar aktivitas berbicara, tetapi kemampuan membaca cara berpikir dan merasakan orang lain.
Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa “hal terpenting dalam komunikasi adalah mendengar apa yang tidak dikatakan.” Artinya, komunikasi menuntut kepekaan bukan hanya terhadap kata, tetapi terhadap konteks, emosi, dan makna yang tersirat.
Namun dalam praktik sehari-hari, kepekaan ini sering tergantikan oleh dorongan untuk segera merespons. Stephen R. Covey menyoroti bahwa kebanyakan orang tidak mendengarkan untuk memahami, tetapi untuk menjawab.
KESALAHAN UMUM: MENGIRA KOMUNIKASI ADALAH SOAL VOLUME
Ironisnya, di tengah persoalan tersebut, solusi yang banyak diambil justru keliru arah. Komunikasi dipahami sebagai persoalan teknis: bagaimana memperbesar suara, memperluas jangkauan, atau memperbanyak frekuensi pesan. Mikrofon diperkuat, platform diperbanyak, konten diproduksi tanpa henti. Seolah-olah masalah utama terletak pada kurangnya volume. Padahal, persoalan mendasarnya justru terletak pada ego: keinginan untuk didengar lebih besar daripada kesediaan untuk mendengar.
REORIENTASI KOMUNIKASI: DARI PENGIRIM KE PENERIMA MAKNA
Riset dari Harvard Business Review (2016) menunjukkan bahwa kegagalan komunikasi bukan disebabkan oleh kurangnya informasi, melainkan oleh ketidaksesuaian cara penyampaian dengan cara penerima memahami.
Artinya, efektivitas komunikasi tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang disampaikan, tetapi seberapa tepat pesan itu dimaknai. Komunikasi harus bergeser dari berpusat pada pengirim pesan menjadi berpusat pada penerima makna.
Sebagai bagian dari masyarakat yang juga hidup di tengah arus komunikasi digital, saya melihat sendiri bagaimana pesan sering kali berhenti pada reaksi, bukan pemahaman. Persoalan komunikasi hari ini bukan kekurangan kata, melainkan kekurangan makna.
PENUTUP: KOMUNIKASI SEBAGAI KEKUATAN PEMAHAMAN
Di tengah dunia yang semakin bising, kemampuan untuk memahami menjadi lebih berharga daripada kemampuan untuk berbicara. Komunikasi yang efektif bukanlah yang paling keras terdengar, melainkan yang paling dalam dimengerti.
Pada akhirnya, komunikasi bukan sekadar tentang banyaknya kata yang diucapkan, melainkan tentang kemampuan menghadirkan pemahaman dan makna yang hidup, sebagaimana ditegaskan Aristotle melalui konsep ethos: kekuatan pesan lahir dari karakter moral yang membangun kepercayaan.
Oleh :
Wirda Noviani Pamungkas, S.I.Kom.
Founder Langit Kreasi Nusantara

