GARUT – Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, Asep Rahmat, bersama jajaran anggota dewan melakukan kunjungan ke RSUD dr. Slamet Garut yang berlokasi di Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (28 September 2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti berbagai isu yang beredar di masyarakat dan media massa terkait lonjakan jumlah pasien serta kualitas pelayanan di rumah sakit.
“Barusan kami mengunjungi kondisi RSUD dr. Slamet dan melakukan diskusi cukup panjang, hampir tiga jam, terkait berbagai persoalan yang sedang menjadi perhatian publik, terutama mengenai lonjakan pasien dan pelayanan rumah sakit,” ujar Asep Rahmat.
Dari hasil peninjauan dan investigasi yang dilakukan,
“Memang benar saat ini jumlah pasien berada di luar kapasitas yang dimiliki rumah sakit. Namun kami memastikan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak akan berkurang,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD dr. Slamet Garut, dr. Inge Andriani Heriawan, membenarkan adanya lonjakan pasien yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di RSUD dr. Slamet, tetapi juga di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Kabupaten Garut maupun daerah lainnya.
Meski demikian, pihak rumah sakit terus berupaya memberikan pelayanan maksimal dan menghindari penolakan pasien. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan ruang transisi bagi pasien yang masih menunggu masuk ke ruang rawat inap.
“Di ruang transisi, pasien tetap mendapatkan terapi dan penanganan sesuai instruksi dokter spesialis sambil menunggu ketersediaan ruang rawat inap,” jelasnya.
Selain itu, rumah sakit juga mempercepat proses pemulangan pasien yang telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang oleh dokter agar tempat tidur dapat segera digunakan oleh pasien lainnya.
“Kami juga memiliki ruang transisi untuk pasien yang sudah diperbolehkan pulang tetapi masih menunggu obat atau jemputan keluarga. Mereka dipindahkan sementara ke ruang tersebut agar tempat tidur rawat inap bisa segera digunakan oleh pasien berikutnya,” tambahnya.
Terkait penambahan kapasitas ruang rawat inap, dr. Inge menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan secara instan karena harus menyesuaikan dengan izin operasional rumah sakit.
“Saat ini kapasitas tempat tidur kami sesuai izin operasional berjumlah 383 tempat tidur. Jika ingin menambah kapasitas, harus tersedia ruangannya, sarana pendukungnya, serta izin yang diperlukan. Saat ini kami lebih fokus pada percepatan perputaran pasien agar pelayanan tetap berjalan optimal,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, menyampaikan perlunya dukungan anggaran untuk meningkatkan fasilitas kesehatan di RSUD dr. Slamet.
Menurutnya, meskipun kapasitas tempat tidur RSUD dr. Slamet saat ini mencapai 383 unit, masih terdapat peluang penambahan kapasitas dengan memanfaatkan beberapa ruangan yang belum digunakan secara optimal.
“Tadi kami juga berdiskusi dengan Dewan Pengawas serta unsur TAPD agar hal ini dapat disampaikan kepada Bupati Garut. Ke depan, anggaran kesehatan, termasuk dari DBHCHT maupun sumber lainnya, perlu difokuskan untuk meningkatkan fasilitas rumah sakit,” ujar Yudha.
Ia menilai peningkatan fasilitas kesehatan, termasuk laboratorium dan layanan jantung, sangat penting agar masyarakat Garut tidak perlu dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan pelayanan medis tertentu.
“Kami berharap RSUD dr. Slamet dapat menjadi rumah sakit rujukan yang lebih lengkap. Saat ini banyak pasien penyakit jantung yang masih harus dirujuk ke Bandung. Ke depan kami berharap tindakan pemasangan ring jantung hingga operasi jantung bisa dilakukan di Garut,” katanya.
Yudha juga mendorong Pemerintah Kabupaten Garut untuk mengalokasikan anggaran yang memadai guna penambahan ruang rawat inap. Menurutnya, tingginya jumlah pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas layanan rumah sakit.
“Kami berharap Bupati Garut dapat memberikan perhatian serius terhadap pengembangan RSUD dr. Slamet, termasuk penambahan ruang rawat inap dan optimalisasi ruangan yang saat ini masih terbengkalai. Dengan begitu pelayanan kesehatan kepada masyarakat Garut dapat semakin baik,” pungkasnya.(yusup)

